Kesehatan 3 minggu yang lalu, Oleh : marketing
Beberapa tahun terakhir masyarakat Indonesia mulai aware terhadap pentingnya kesehatan mental. Mulai dari banyaknya podcast yang membahas terkait kesehatan mental hingga ragam buku yang diterbitkan dengan topik utamanya, kesehatan mental.
Diskursus mengenai kesehatan mental mulai menarik perhatian banyak orang hingga menjadi trend dan yang cukup mengkhawatirkan dari adanya trends ini adalah ketika adanya self diagnose dari segelintir orang yang tidak kompeten. Diantara banyaknya self diagnose, masalah bipolar menjadi topik yang paling sering disebut dan disandarkan pada gen Z serta millennial.
Akan tetapi, apakah Kawan Permata sudah tahu apa yang dimaksud Gangguan Bipolar? Tanpa perlu Panjang lebar lagi, yuk! Simak penjelasan langsung mengenai Gangguan Bipolar.
Gangguan bipolar merupakan penyakit mental dengan kondisi kompleks yang dialami pasien, dimana suatu waktu berada pada periode mania/hipomania dan pada waktu yang lain ia berada pada periode depresi. Sederhananya gangguan bipolar ini dipahami sebagai perubahan suasana hati dan aktivitas yang nyata serta tidak dapat diprediksi.
Sebuah jurnal yang ditulis oleh Madeline R. Scott dan Colleen A. McClung menjelaskan bahwa Gangguan Bipolar itu dibagi menjadi 2 jenis. Gangguan Bipolar pertama mengalami episode manik/mania juga berpotensi mengalami depresi, sedang Gangguan Bipolar yang kedua mengalami hipomania.
Gangguan Bipolar jenis pertama bisa dikatakan lebih parah dari jenis yang kedua karena mania/manik umumnya sering dikaitkan dengan psikosis. Psikosis adalah suatu kondisi yang menyebabkan seseorang kehilangan kontak dengan realitas atau halusinasi dan delusi.
Bisa kita tarik kesimpulan bahwa Gangguan Bipolar adalah penyakit mental yang ditandai dengan adanya perubahan drastis pada suasana hati. Penderita gangguan ini bisa merasa sangat bahagia kemudian bisa berubah menjadi sangat sedih.
Sempat disinggung sebelumnya tentang 2 jenis gangguan Bipolar, dilansir Mayo Clinic, Gangguan Bipolar terbagi sebagai berikut,
Kondisi seseorang ketika mengalami setidaknya satu episode manik yang mungkin terjadi sebelum atau sesudah episode hipomanik atau depresi mayor. Dalam beberapa kasus, mania dapat menyebabkan orang tersebut kehilangan kesadaran dan ini disebut dengan psikosis.
Kondisi ketika seseorang mengalami setidaknya satu episode depresi mayor dan setidaknya satu episode hipomanik. Namun, seseorang tersebut belum pernah mengalami episode manik.
Kondisi seseorang ketika mengalami setidaknya dua tahun — atau satu tahun pada anak-anak dan remaja — banyak periode gejala hipomania dan periode gejala depresi. Gejala-gejala ini lebih ringan daripada depresi mayor.
Jenis ini mencakup gangguan bipolar dan gangguan terkait yang disebabkan oleh obat-obatan atau alkohol tertentu, atau karena kondisi medis, seperti penyakit Cushing, multiple sclerosis, atau stroke.
Sebuah jurnal yang dipublikasi Pubmed berjudul Epidemiology and risk factors for bipolar disorder menjelaskan bahwa faktor risiko bipolar sangat banyak, baik disebabkan oleh genetik maupun lingkungan. Studi risiko akibat lingkungan juga tidak dapat sepenuhnya bisa dijadikan faktor utama.
Namun, terdapat bukti bahwa tingkat keparahan bipolar berkaitan dengan pelecehan emosional masa kanak-kanak dan tingkat penyalahgunaan ganja, yang menunjukkan hubungan dosis-respons. Selain itu, bipolar dikaitkan dengan komorbiditas/masalah medis seperti IBS dan asma, yang mungkin mengarah pada patofisiologi inflamasi bersama dari gangguan tersebut, sementara gangguan kejiwaan dan gambaran klinis lain yang mendahului timbulnya bipolar dapat mengarah pada 'risiko sindrom' yang dapat diidentifikasi.
Sebuah laporan dari Healthline.com menyebutkan bahwa tidak ada satu faktor risiko tunggal yang membuat seseorang mengalami gangguan bipolar. Para ilmuwan percaya bahwa beberapa faktor risiko memiliki pengaruh satu sama lain untuk memicu munculnya gangguan ini.
Mengenai faktor risiko gangguan bipolar ini, seperti yang sudah dibahas sebelumnya bahwa diantar pemicunya ialah,
Genetik - Gangguan bipolar cenderung diturunkan secara genetik dalam keluarga. Anak-anak dengan orang tua atau saudara kandung yang mengalami gangguan ini memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalaminya dibandingkan mereka yang tidak memiliki anggota keluarga Gangguan Bipolar.
Lingkungan - Terkadang, peristiwa yang menegangkan atau perubahan hidup yang besar memicu gangguan bipolar seseorang. Contoh pemicu yang mungkin termasuk timbulnya masalah medis atau kehilangan orang yang dicintai. Peristiwa semacam ini dapat memicu episode manik atau depresi pada orang dengan gangguan bipolar.
Selain itu, penyalahgunaan narkoba dapat memicu gangguan bipolar. Diperkirakan 60 persen individu dengan gangguan bipolar bergantung pada narkoba atau alkohol. Orang dengan depresi musiman atau gangguan kecemasan juga berisiko mengalami gangguan bipolar.
Struktur Otak - Pencitraan resonansi magnetik fungsional (fMRI) dan teknologi emisi positron (PET) adalah dua jenis pemindaian yang dapat menghasilkan citra otak. Temuan tertentu pada pemindaian otak mungkin berkaitan dengan gangguan bipolar. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk melihat bagaimana temuan ini secara spesifik memengaruhi gangguan bipolar dan apa artinya bagi pengobatan dan diagnosis.
Dilansir Mayo Clinic gangguan bipolar dapat muncul pada segala usia, tetapi biasanya terdiagnosis pada rentan usia remaja atau awal 20-an. Gejalanya dapat berbeda pada setiap orang, dan gejalanya dapat berubah seiring waktu.
Sebuah Jurnal yang ditulis oleh Mark W. Dailey & Abdolreza Saadabadi dalam publikasi NCBI memaparkan bahwa Mania adalah periode 1 minggu atau lebih di mana seseorang mengalami perubahan perilaku normal yang secara drastis memengaruhi fungsi mereka. Mania dapat dibedakan dari hipomania karena hipomania tidak menyebabkan defisit besar dalam fungsi sosial atau pekerjaan, dan melibatkan periode minimal 4 hari, bukan minimal 1 minggu.
Karakteristik yang menentukan mania meliputi:
Sedangkan, Hipomania adalah bentuk mania yang lebih ringan. Jika Anda mengalami hipomania, tingkat energi Anda lebih tinggi dari biasanya, tetapi tidak seekstrem mania. Gejalanya mungkin hanya berlangsung beberapa hari di kisaran 4 hari atau kurang.
Gejala hipomania berbeda dari tingkat aktivitas dan perilaku Anda pada umumnya, sehingga orang lain mungkin memperhatikan perbedaan tersebut. Menurut para ahli, dalam kebanyakan kasus hipomania tidak memerlukan rawat inap.
Orang dengan gangguan bipolar II mungkin mengalami hipomania yang bergantian dengan depresi, atau mereka mungkin memiliki keadaan emosional yang lebih khas di antara keduanya.
Perbedaan utama antara mania dan hipomania terletak pada intensitas gejala dan lamanya gejala tersebut berlangsung. Meskipun intensitasnya bervariasi, sebagian besar gejala mania dan hipomania sama.
Meskipun suasana hati pengidap gangguan ini ekstrem, penderita gangguan bipolar seringkali tidak menyadari betapa ketidakstabilan emosi tersebut mengganggu hidup mereka dan orang-orang yang mereka cintai. Akibatnya, mereka tidak mendapatkan perawatan yang dibutuhkan.
Jika Anda seperti beberapa orang dengan gangguan bipolar, Anda mungkin menikmati perasaan euforia dan siklus menjadi lebih produktif. Namun, euforia ini selalu diikuti oleh kehancuran emosi. Kehancuran emosi ini dapat membuat Anda depresi dan kelelahan. Hal ini dapat menyebabkan Anda kesulitan bergaul dengan orang lain. Hal ini juga dapat menyebabkan Anda terjerumus ke dalam masalah keuangan atau hukum.
Jika Anda mengalami gejala depresi atau mania, segera konsultasikan dengan dokter atau tenaga kesehatan mental profesional. Gangguan bipolar tidak akan membaik dengan sendirinya. Tenaga kesehatan mental profesional yang berpengalaman dalam menangani gangguan bipolar dapat membantu Anda mengendalikan gejala-gejala tersebut.
Preuss, Ulrich W., et.all. (2021). Bipolar Disorder and Comorbid Use of Illicit Substances. Medicina. 57(11): 1265. Diakses Desember 20, 2025.
Rowland, Tobias A. & Steven Marwaha. (2018). Epidemiology and risk factors for bipolar disorder. Therapeutic Advances in Psychopharmacology. 8(9): 251-269. Diakses Desember 20, 2025.
Scoot, Madeline R. & Colleen A McClung. (2023). Bipolar Disorder. Current Opinion in Neurobiology. Diakses Desember 20, 2025.
Dailey, Mark W. & Abdolreza Saadabadi. (2023). Mania. StatPearls NCBI Pubmed. Diakses Desember 20, 2025.
Healthline.com. (2023). What You Should Know About Mania vs. Hypomania. dari https://www.healthline.com/health/mania-vs-hypomania. Diakses Desember 20, 2025.
Healthline.com.(2018). Risk Factors for Bipolar Disorder. dari https://www.healthline.com/health/bipolar-disorder/bipolar-risk-factors. Diakses Desember 20, 2025.
Mayoclinic.org. (2024). Bipolar Disorder. dari https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/bipolar-disorder/symptoms-causes/syc-20355955. Diakses Desember 20, 2025
Disunting Oleh : dr. Agraini, Sp.KJ
Jl. Cut Nyak Dien,Kel. Cijoho,Kec. Kuningan,Kab. Kuningan,Prop. Jawa Barat
info@rspermatakuningan.com
(0232) 890 5556, 890 5557
IGD (0232) 890 5555
© 2020 - 2026 IT RS Permata
Kuningan, PT Kuningan Kampung Sehat.
All Rights Reserved.
Designed by HTML
Codex
Distributed by ThemeWagon