Kesehatan 6 hari yang lalu, Oleh : marketing
Mungkin kita sudah tidak asing lagi dengan istilah Sembelit atau Konstipasi, bahkan banyak dari kita yang sudah menganggapnya sebagai hal wajar. Sembelit biasa kita pahami sebagai kesulitan seseorang dalam Buang Air Besar (BAB) dan tak sedikit yang menganggap bahwa Sembelit atau Konstipasi dipahami sebagai tinja yang mengeras sehingga seseorang perlu mengejan lebih kuat agar dapat BAB.
Sebuah jurnal yang berjudul Evidence-Based Clinical Guidelines for Chronic Constipation 2023, menjelaskan bahwa Sembelit merupakan suatu kondisi ketika tinja yang seharusnya dikeluarkan justru tertahan di usus besar, sehingga menjadi keras atau menggumpal dan menyebabkan buang air besar menjadi lebih jarang. Kondisi ini juga dapat disertai kesulitan saat BAB, seperti harus mengejan berlebihan, merasa BAB tidak tuntas, terasa ada sumbatan di area anus, atau sulit mengeluarkan tinja.
Konstipasi dapat terjadi karena dua hal: Pertama, tinja yang terbentuk di usus besar tidak dapat bergerak dengan baik menuju rektum, sehingga tinja menjadi menumpuk, keras, dan buang air besar menjadi lebih jarang. Kedua, tinja sebenarnya sudah berada di rektum, tetapi sulit atau tidak bisa dikeluarkan dengan lancar.
Gangguan ini bisa membuat seseorang merasa harus mengejan kuat saat BAB, merasa tinja tidak keluar sepenuhnya, seperti ada sumbatan di area anus, serta mengalami kesulitan saat buang air besar meskipun sudah ada dorongan.
Dilansir Mayo Clinic, gejala sembelit atau konstipasi biasanya ditandai dengan:
Biasanya sembelit kronis dialami seseorang ketika mengalami 2 atau lebih gejala di atas selama 3 bulan atau lebih. Segera hubungi dokter apabila Kawan Permata mengalami:
Sembelit atau Konstipasi diklasifikasikan menjadi dua tipe, yakni Konstipasi Primer dan Konstipasi Sekunder. Keduanya memiliki penyebab atau faktor pemicu yang berbeda satu sama lain. Dilansir Medical News Today:
Meski begitu, konstipasi sekunder juga bisa disebabkan:
Pembahasan mengenai korelasi Sembelit dan lansia dalam jurnal Medical Management of Constipation in Elderly Patients: Systematic Review memaparkan bahwa Sembelit merupakan gangguan pencernaan yang cukup sering dialami, terutama pada usia lanjut. Risiko sembelit meningkat seiring bertambahnya usia, khususnya setelah usia 65 tahun dengan berbagai penelitian menunjukkan bahwa sekitar 24–30% lansia mengalami sembelit, tergantung pada kondisi dan cara penilaiannya.
Sembelit juga lebih sering dan lebih berat terjadi pada lansia perempuan, dengan angka kejadian 2 hingga 3 kali lebih tinggi dibandingkan lansia laki-laki. Karena keluhan ini, banyak lansia yang rutin menggunakan obat pencahar (laksatif), bahkan hingga 1 dari 10 lansia yang tinggal di rumah dan sekitar setengah dari penghuni panti jompo menggunakannya setiap hari.
Tidak hanya mengganggu kenyamanan, sembelit pada lansia juga berdampak besar pada kualitas hidup dan kesehatan mental. Lansia yang mengalami sembelit cenderung merasa lebih tertekan secara psikologis dan memiliki kondisi mental yang lebih buruk dibandingkan mereka yang tidak mengalami sembelit.
Penelitian menunjukkan bahwa lansia dengan sembelit memiliki keterbatasan aktivitas fisik, lebih sering merasakan nyeri, serta menilai kesehatan dan kesejahteraan mentalnya lebih rendah. Oleh karena itu, mengenali, mencegah, dan menangani sembelit sejak dini sangat penting untuk menjaga kualitas hidup lansia dan mencegah komplikasi serius seperti penumpukan tinja di usus.
Banyak jenis obat yang dapat menyebabkan sembelit kronis. Beberapa yang paling sering adalah obat antikolinergik, obat psikiatri, dan obat pereda nyeri golongan opioid. Di antara semuanya, opioid paling sering memicu sembelit karena dapat memperlambat gerakan usus, mengurangi kontraksi otot usus, dan menurunkan produksi cairan di saluran pencernaan, sehingga tinja menjadi lebih keras dan sulit dikeluarkan.
Selain obat, kondisi tertentu seperti penyakit Parkinson juga dapat menyebabkan sembelit akibat gangguan pada saraf yang mengatur kerja usus. Namun, perlu diperhatikan bahwa obat untuk Parkinson justru bisa memperburuk sembelit karena memengaruhi keseimbangan zat kimia saraf di tubuh. Obat lain yang juga dapat memicu sembelit antara lain obat kemoterapi, obat tekanan darah tertentu (penghambat saluran kalsium), obat diuretik, antasida yang mengandung aluminium, serta beberapa jenis obat penyerap dan resin penukar ion.
Dilansir Mayo Clinic, terdapat beberapa pengobatan atau pemulihan sembelit yang bisa dilakukan, baik melalui perubahan Gaya Hidup hingga Pengobatan Medis.
Langkah pertama untuk mengatasi susah buang air besar (BAB) adalah mengubah kebiasaan sehari-hari. Jika Kawan Permata sedang mengonsumsi obat tertentu, dokter mungkin akan mengecek apakah obat tersebut menjadi penyebabnya. Namun, jika perubahan gaya hidup belum cukup, ada beberapa tahapan pengobatan lain yang bisa dilakukan.
Jangan biarkan gangguan pencernaan menghambat produktivitas dan kenyamanan hidupmu berlarut-larut. Jika perubahan gaya hidup belum memberikan solusi maksimal, segera ambil langkah tepat dengan berkonsultasi kepada Dokter Spesialis Penyakit Dalam di RS Permata Kuningan; kami siap membantu kamu mendapatkan diagnosis akurat dan penanganan medis terbaik agar kamu bisa kembali beraktivitas dengan lega, sehat, dan bebas khawatir.
Ihara, Eikichi, et.all. (2024). Evidence-Based Clinical Guidelines for Chronic Constipation 2023. Karger Journal: Digestion. 106(1): 62-89. diakses Februari 02, 2026.
Kang, Seung Joo, et.all. (2021). Medical Management of Constipation in Elderly Patients: Systematic Review. JNM Journal. 27(4): 495-512. diakses Februari 02, 2026.
Mayoclinic.com. (2025). Constipation. dari https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/constipation/symptoms-causes/syc-20354253. diakses Februari 02, 2026.
Medicalnewstoday.com. (2023). What to know about different types of constipation. dari https://www.medicalnewstoday.com/articles/types-of-constipation. diakses Februari 02, 2026.
Disunting Oleh : dr. Adi Putra Rahmadi, Sp.PD.
Jl. Cut Nyak Dien,Kel. Cijoho,Kec. Kuningan,Kab. Kuningan,Prop. Jawa Barat
info@rspermatakuningan.com
(0232) 890 5556, 890 5557
IGD (0232) 890 5555
© 2020 - 2026 IT RS Permata
Kuningan, PT Kuningan Kampung Sehat.
All Rights Reserved.
Designed by HTML
Codex
Distributed by ThemeWagon