Pelayanan Poli : Senin - Jumat : 08.00 - 20.00, Sabtu : 08.00 - 12.00, IGD 24 Jam : (0232) 890 5555

info@rspermatakuningan.com

(0232) 890 5556, 890 5557

Kesehatan

Sembelit: Gejala, Penyebab, dan Pengobatannya

Kesehatan 6 hari yang lalu, Oleh : marketing

Mungkin kita sudah tidak asing lagi dengan istilah Sembelit atau Konstipasi, bahkan banyak dari kita yang sudah menganggapnya sebagai hal wajar. Sembelit biasa kita pahami sebagai kesulitan seseorang dalam Buang Air Besar (BAB) dan tak sedikit yang menganggap bahwa Sembelit atau Konstipasi dipahami sebagai tinja yang mengeras sehingga seseorang perlu mengejan lebih kuat agar dapat BAB.

Sebuah jurnal yang berjudul Evidence-Based Clinical Guidelines for Chronic Constipation 2023, menjelaskan bahwa Sembelit merupakan suatu kondisi ketika tinja yang seharusnya dikeluarkan justru tertahan di usus besar, sehingga menjadi keras atau menggumpal dan menyebabkan buang air besar menjadi lebih jarang. Kondisi ini juga dapat disertai kesulitan saat BAB, seperti harus mengejan berlebihan, merasa BAB tidak tuntas, terasa ada sumbatan di area anus, atau sulit mengeluarkan tinja.

Konstipasi dapat terjadi karena dua hal: Pertama, tinja yang terbentuk di usus besar tidak dapat bergerak dengan baik menuju rektum, sehingga tinja menjadi menumpuk, keras, dan buang air besar menjadi lebih jarang. Kedua, tinja sebenarnya sudah berada di rektum, tetapi sulit atau tidak bisa dikeluarkan dengan lancar.

Gangguan ini bisa membuat seseorang merasa harus mengejan kuat saat BAB, merasa tinja tidak keluar sepenuhnya, seperti ada sumbatan di area anus, serta mengalami kesulitan saat buang air besar meskipun sudah ada dorongan.

Gejala Sembelit dan Kapan Harus ke Dokter?

Dilansir Mayo Clinic, gejala sembelit atau konstipasi biasanya ditandai dengan:

  1. Buang Air Besar kurang dari 3 kali dalam seminggu
  2. Feses mengeras, kering, atau menggumpal
  3. Mengejan atau merasakan sakit saat BAB
  4. Adanya perasaan tidak tuntas saat BAB atau merasa tidak semua feses telah keluar
  5. Adanya sensasi seolah-olah rektum tersumbat
  6. Kebutuhan menggunakan bantuan jari atau tangan saat BAB atau mengeluarkan feses

Biasanya sembelit kronis dialami seseorang ketika mengalami 2 atau lebih gejala di atas selama 3 bulan atau lebih. Segera hubungi dokter apabila Kawan Permata mengalami:

  1. Gejala yang berlangsung lebih dari 3 minggu
  2. Gejala yang membuat sulit untuk melakukan aktivitas sehari-hari
  3. Pendarahan dari rectum atau nampak darah pada tisu toilet
  4. Adanya darah dalam tinja atau tinja berwarna hitam
  5. Perubahan tidak biasa pada bentuk dan warna tinja
  6. Sakit perut yang tak kunjung reda
  7. Berat Badan ikut menurun

Jenis-jenis Sembelit/Konstipasi dan Penyebabnya

Sembelit atau Konstipasi diklasifikasikan menjadi dua tipe, yakni Konstipasi Primer dan Konstipasi Sekunder. Keduanya memiliki penyebab atau faktor pemicu yang berbeda satu sama lain. Dilansir Medical News Today:

  1. Dokter biasanya menyebut Konstipasi Primer sebagai Konstipasi Fungsional atau Idiopatik yang kemudian pecah lagi menjadi tiga jenis Konstipasi, diantaranya:
    • Konstipasi Transit Normal: Jenis ini digambarkan ketika seseorang merasa sembelit, tetapi konsistensi tinjanya normal, dan bergerak melalui saluran pencernaan dengan kecepatan teratur. Pada sebagian orang, jenis konstipasi ini menimbulkan gejala perut kembung dan nyeri.
    • Konstipasi Akibat Transit Lambat: Konstipasi ini jarang ditemui dan lebih sering terjadi pada wanita lansia. Hal ini terjadi akibat stimulasi usus tidak normal dan membuat kotoran atau feses bergerak terlalu lambat. Oleh karena itu, biasanya jenis ini mengalami buang air besar yang lebih jarang.
    • Konstipasi Akibat Penyumbatan: Tipe ini biasanya terjadi karena adanya kerusakan pada otot dasar panggul. Otot-otot ini menopang usus dan kandung kemih, serta rahim pada wanita. Kerusakan otot ini bisa disebabkan berbagai faktor, termasuk kehamilan dan persalinan. Biasanya ditandai dengan mengejan berlebih untuk BAB, menuda BAB karena rasa nyeri, dan perlu menggunakan bantuan tangan untuk BAB.
  2. Konstipasi Sekunder merupakan konstipasi yang terjadi akibat dari adanya masalah kesehatan maupun efek samping dari penggunaan obat tertentu. Biasanya penyebab paling umum konstipasi jenis ini meliputi:
    • Diabetes
    • Hipotiroidisme
    • Penyakit yang menyerang otak atau pembuluh darah, seperti demensia
    • Masalah Depresi
    • Penggunaan obat-obatan tertentu seperti opioid dan kemoterapi
    • Sindrom Iritasi Usus Besar atau IBS
    • Penyakit radang usus, seperti Crohn dan Kolitis Ulseratif

Meski begitu, konstipasi sekunder juga bisa disebabkan:

  1. Tubuh kekurangan vitamin dan mineral
  2. Fisura anal atau robekan kecil pada jaringan anus
  3. Kerusakan saraf
  4. Cedera sumsum tulang belakang
  5. Penyakit yang menyerang system saraf, seperti Parkinson dan Multiple Sclerosis
  6. Kanker Usus Besar

Faktor Risiko Sembelit/Konstipasi Pada Lansia

Pembahasan mengenai korelasi Sembelit dan lansia dalam jurnal Medical Management of Constipation in Elderly Patients: Systematic Review memaparkan bahwa Sembelit merupakan gangguan pencernaan yang cukup sering dialami, terutama pada usia lanjut. Risiko sembelit meningkat seiring bertambahnya usia, khususnya setelah usia 65 tahun dengan berbagai penelitian menunjukkan bahwa sekitar 24–30% lansia mengalami sembelit, tergantung pada kondisi dan cara penilaiannya.

Sembelit juga lebih sering dan lebih berat terjadi pada lansia perempuan, dengan angka kejadian 2 hingga 3 kali lebih tinggi dibandingkan lansia laki-laki. Karena keluhan ini, banyak lansia yang rutin menggunakan obat pencahar (laksatif), bahkan hingga 1 dari 10 lansia yang tinggal di rumah dan sekitar setengah dari penghuni panti jompo menggunakannya setiap hari.

Tidak hanya mengganggu kenyamanan, sembelit pada lansia juga berdampak besar pada kualitas hidup dan kesehatan mental. Lansia yang mengalami sembelit cenderung merasa lebih tertekan secara psikologis dan memiliki kondisi mental yang lebih buruk dibandingkan mereka yang tidak mengalami sembelit.

Penelitian menunjukkan bahwa lansia dengan sembelit memiliki keterbatasan aktivitas fisik, lebih sering merasakan nyeri, serta menilai kesehatan dan kesejahteraan mentalnya lebih rendah. Oleh karena itu, mengenali, mencegah, dan menangani sembelit sejak dini sangat penting untuk menjaga kualitas hidup lansia dan mencegah komplikasi serius seperti penumpukan tinja di usus.

Apakah ada jenis obat-obatan yang dapat memicu sembelit?

Banyak jenis obat yang dapat menyebabkan sembelit kronis. Beberapa yang paling sering adalah obat antikolinergik, obat psikiatri, dan obat pereda nyeri golongan opioid. Di antara semuanya, opioid paling sering memicu sembelit karena dapat memperlambat gerakan usus, mengurangi kontraksi otot usus, dan menurunkan produksi cairan di saluran pencernaan, sehingga tinja menjadi lebih keras dan sulit dikeluarkan.

Selain obat, kondisi tertentu seperti penyakit Parkinson juga dapat menyebabkan sembelit akibat gangguan pada saraf yang mengatur kerja usus. Namun, perlu diperhatikan bahwa obat untuk Parkinson justru bisa memperburuk sembelit karena memengaruhi keseimbangan zat kimia saraf di tubuh. Obat lain yang juga dapat memicu sembelit antara lain obat kemoterapi, obat tekanan darah tertentu (penghambat saluran kalsium), obat diuretik, antasida yang mengandung aluminium, serta beberapa jenis obat penyerap dan resin penukar ion.

Langkah-langkah Mengatasi Sembelit

Dilansir Mayo Clinic, terdapat beberapa pengobatan atau pemulihan sembelit yang bisa dilakukan, baik melalui perubahan Gaya Hidup hingga Pengobatan Medis.

Langkah pertama untuk mengatasi susah buang air besar (BAB) adalah mengubah kebiasaan sehari-hari. Jika Kawan Permata sedang mengonsumsi obat tertentu, dokter mungkin akan mengecek apakah obat tersebut menjadi penyebabnya. Namun, jika perubahan gaya hidup belum cukup, ada beberapa tahapan pengobatan lain yang bisa dilakukan.

  • Perbaikan Gaya Hidup dan Pola Makan (Langkah Awal)
    Dokter biasanya menyarankan cara alami ini terlebih dahulu:
    1. Perbanyak Asupan Serat: Serat membuat tinja lebih padat namun tetap lunak, sehingga mudah bergerak di usus. Makanlah lebih banyak buah, sayur, kacang-kacangan, dan gandum utuh. Tips: Tambahkan porsi serat secara bertahap agar perut tidak kembung.
    2. Cukupi Kebutuhan Air: Minumlah banyak air putih untuk menjaga tinja tetap lunak. Hindari minuman berkafein (seperti kopi/teh berlebih) karena bisa memicu dehidrasi ringan.
    3. Rutin Bergerak: Olahraga teratur membantu usus bekerja lebih aktif. Usahakan berolahraga ringan hampir setiap hari.
    4. Bangun Kebiasaan BAB yang Baik: Jangan pernah menahan keinginan BAB. Cobalah buat jadwal rutin, misalnya 15–45 menit setelah makan, saat usus sedang aktif-aktifnya.
    5. Konsumsi Buah Prune: Buah prune (plum kering) adalah obat alami yang ampuh karena kaya serat dan mengandung zat alami yang menarik air ke usus.
  • Penggunaan Obat Pencahar (Baiknya Berdasarkan Resep Dokter)
    Jika cara alami belum berhasil, Kawan Permata bisa mencoba obat pencahar sesuai dengan anjuran atau resep dokter. Cara kerjanya bermacam-macam:
    1. Suplemen Serat: Membantu tinja menahan air agar lebih lunak (Contoh: psyllium, metilselulosa).
    2. Pelunak Tinja: Membantu air bercampur dengan tinja agar tidak keras (Contoh: docusate sodium).
    3. Laksatif Osmotik: Menarik cairan ke dalam usus untuk melancarkan pergerakan (Contoh: susu magnesia, polietilen glikol).
    4. Stimulan: Merangsang otot usus untuk berkontraksi atau "mulas" agar tinja terdorong keluar (Contoh: bisacodyl).
    5. Pelumas: Melicinkan jalan keluar tinja, biasanya menggunakan minyak mineral.
  • Enema dan Supositoria
    Jika ada sumbatan keras di rektum, metode ini mungkin diperlukan:
    1. Enema: Memasukkan cairan (air sabun lembut atau minyak) ke dalam rektum untuk melunakkan dan mengeluarkan tinja.
    2. Supositoria: Obat berbentuk peluru kecil yang dimasukkan ke anus. Obat ini akan meleleh oleh suhu tubuh dan merangsang BAB.
  • Penanganan Medis Lanjutan (Jika Sembelit Kronis)
    Jika semua cara di atas tidak berhasil, dokter mungkin akan menyarankan:
    1. Obat Resep Khusus: Obat-obatan yang bekerja lebih kuat untuk melancarkan pencernaan (seperti Lubiprostone atau Linaclotide). Jika sembelit disebabkan oleh obat pereda nyeri (opioid), ada obat khusus untuk menangkal efek samping tersebut.
    2. Terapi Otot Panggul (Biofeedback): Latihan fisik dengan terapis untuk melatih otot panggul agar bisa rileks dan berkontraksi dengan benar saat BAB.
    3. Operasi: Langkah terakhir yang sangat jarang dilakukan, biasanya hanya jika ada kerusakan saraf atau penyumbatan fisik pada usus.

Jangan biarkan gangguan pencernaan menghambat produktivitas dan kenyamanan hidupmu berlarut-larut. Jika perubahan gaya hidup belum memberikan solusi maksimal, segera ambil langkah tepat dengan berkonsultasi kepada Dokter Spesialis Penyakit Dalam di RS Permata Kuningan; kami siap membantu kamu mendapatkan diagnosis akurat dan penanganan medis terbaik agar kamu bisa kembali beraktivitas dengan lega, sehat, dan bebas khawatir.

Source:

Ihara, Eikichi, et.all. (2024). Evidence-Based Clinical Guidelines for Chronic Constipation 2023. Karger Journal: Digestion. 106(1): 62-89. diakses Februari 02, 2026.

Kang, Seung Joo, et.all. (2021). Medical Management of Constipation in Elderly Patients: Systematic Review. JNM Journal. 27(4): 495-512. diakses Februari 02, 2026.

Mayoclinic.com. (2025). Constipation. dari https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/constipation/symptoms-causes/syc-20354253. diakses Februari 02, 2026.

Medicalnewstoday.com. (2023). What to know about different types of constipation. dari https://www.medicalnewstoday.com/articles/types-of-constipation. diakses Februari 02, 2026.

Disunting Oleh : dr. Adi Putra Rahmadi, Sp.PD.

Hubungi Kami

Jl. Cut Nyak Dien,Kel. Cijoho,Kec. Kuningan,Kab. Kuningan,Prop. Jawa Barat

info@rspermatakuningan.com

(0232) 890 5556, 890 5557

IGD (0232) 890 5555

Follow Us

© 2020 - 2026 IT RS Permata Kuningan, PT Kuningan Kampung Sehat.
All Rights Reserved.

Designed by HTML Codex
Distributed by ThemeWagon